Dinas Pariwisata juga telah aktif berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat mulai dari perguruan tinggi, industri perhotelan, hingga para pengelola destinasi guna menghadirkan produk wisata yang lebih berkualitas. “Kami sudah berkolaborasi untuk mengembangkan wisata gastronomi dan wellness. Kami targetkan paket wisata premium dengan estimasi minimal Rp 2,5 juta per orang,” tutur Kus.
Implementasi konsep wisata gastronomi yang dirancang oleh Dinas Pariwisata Sleman ini tidak sekadar menyuguhkan makanan tradisional kepada para pelancong, melainkan juga mengintegrasikan nilai sejarah dan narasi budaya ke dalam setiap sajian. Kurasi menu makanan bahkan diinspirasi langsung dari relief-relief candi bersejarah yang tersebar di wilayah Sleman dan sekitarnya agar mampu memberikan impresi perjalanan yang mendalam dan berkelas.
Selain sektor kuliner, pengembangan wisata kebugaran atau wellness akan menjadi pilar utama karena tren global menunjukkan adanya peningkatan permintaan dari pelancong yang mendambakan perjalanan yang menenangkan sekaligus menyehatkan tubuh.
Dinas Pariwisata Sleman menilai reaktivasi Bandara Adisutjipto ini akan membawa dampak positif yang masif bagi ceruk pasar Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) serta industri olahraga mewah seperti golf. Faktor letak geografis Bandara Adisutjipto yang jauh lebih dekat dengan pusat Kota Yogyakarta jika dibandingkan dengan bandara utama di Kulon Progo dipastikan memangkas waktu tempuh pelancong. Dengan demikian akan mempermudah akses ke berbagai fasilitas wisata dan akomodasi perhotelan di Sleman.
Kus sangat optimistis bahwa kondisi tersebut akan mendongkrak kunjungan ke Merapi Golf yang selama ini pergerakannya sempat terdampak oleh kendala jarak tempuh yang jauh. “Harapannya, hotel-hotel yang selama ini terdampak oleh perpindahan bandara lama ke baru dulu dapat kembali hidup dengan adanya peningkatan okupansi dari pelaku MICE dan wisatawan mancanegara,” tutur Kus.















