Budaya tip dikeluhkan turis Piala Dunia di AS, bikin biaya liburan membengkak

Bagikan

Maiko Asahi bersama keluarganya pun datang dari Tokyo untuk menyaksikan Jepang bertanding di Dallas. Ia mengatakan budaya memberi tip tidak ada di Jepang.

“Harga makanan tanpa tip saja sudah sangat mahal. Kalau ditambah tip, jadinya terlalu mahal,” kata Asahi.

Penggemar Jepang lainnya, Akihiro, yang datang bersama putranya, juga mengeluhkan tingginya biaya makan.

“Bahkan makanan paling murah di restoran harganya sekitar USD 30. Lalu kalau ditambah tip sekitar 13 hingga 20 persen, kita jadi berpikir, ‘Waduh, uang itu sebenarnya bisa dipakai membeli satu porsi makanan lagi’,” ujarnya.

Banter, sebuah bar bertema sepak bola di Brooklyn, setiap tahun didatangi banyak wisatawan asal Inggris dan Eropa, terutama saat Piala Dunia berlangsung.

Namun pemiliknya, Chris Keller, mengatakan wisatawan asal Eropa dikenal sebagai pemberi tip yang buruk, bahkan sering kali tidak memberi tip sama sekali.

“Memang selalu seperti itu. Tidak bisa dihindari. Mereka sering kali tidak memberi tip atau pura-pura tidak tahu soal budaya tersebut,” ucapnya.

Untuk melindungi para pegawainya, Keller mengubah sistem pembayaran sehingga pelanggan yang melakukan reservasi harus membayar minuman di muka, termasuk biaya layanan.

“Itu semata-mata untuk melindungi staf kami,” ujar Keller.

Hal serupa juga disampaikan Ann Calimano, salah satu pemilik Hurley’s Restaurant & Bar di New York. Menurutnya, meski jumlah pengunjung meningkat tajam selama Piala Dunia, banyak pelanggan baru yang belum terbiasa memberikan tip.

“Orang Eropa tidak memberi tip seperti orang Amerika. Itulah budaya mereka,” katanya.