“Saya masih merasa bingung mengapa sistem ini ada. Di Australia, ada harga tetap dan kita tinggal membayarnya. Di sini orang meminta atau mengharapkan tip. Terkadang kita bahkan tidak tahu berapa jumlah tip yang seharusnya diberikan,” kata O’Flynn.
Ia pun menilai perusahaan seharusnya membayar karyawannya dengan upah yang lebih layak.
“Menurut kebanyakan orang Australia di sini, bayarlah staf dengan gaji yang lebih baik. Seharusnya itu menjadi tanggung jawab bisnis, bukan pelanggan, untuk memastikan karyawan dibayar dengan layak,” lanjutnya.
Sementara itu, McNamara mengatakan berusaha menghormati kebiasaan setempat sebagai tamu, tetapi budaya memberi tip tetap menjadi kejutan budaya baginya.
“Mereka mengharapkan tip setiap kali kita membeli minuman, sehingga biayanya cepat sekali membengkak. Membeli satu minuman lalu harus menambah USD 5 untuk tip cukup sulit dipahami,” sebut Mcnamara.
Pryor, yang berasal dari Norwich, Inggris, tengah berkeliling AS selama turnamen berlangsung. Meski kesal diminta memberi tip saat membeli air minum, ia mengaku tetap memahami praktik memberi tip di restoran.
“Saya paham mereka tidak dibayar setinggi pekerja di Inggris. Secara umum pelayanannya juga bagus, jadi kalau memang pelayanannya baik, mereka pantas mendapatkan tip yang layak,” ujarnya.









