Berbagai kemudahan masuk yang diperkenalkan setelah pandemi untuk mendorong sektor pariwisata kini mulai dicabut setelah pemerintah mengaitkan aturan tersebut dengan meningkatnya kasus pekerja ilegal, pelanggaran izin tinggal, dan tindak kriminal yang melibatkan warga negara asing.
Pekan lalu, polisi Thailand menangkap seorang pria asal Australia di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, saat diduga hendak melarikan diri setelah dituduh membunuh seorang remaja perempuan Thailand berusia 17 tahun dan meninggalkan jasadnya di dalam koper.
Namun, dengan sektor pariwisata yang menyumbang sekitar seperlima perekonomian Thailand, ekosistem hotel, restoran, pasar makanan, operator transportasi, pusat penyelaman, hingga biro perjalanan yang tumbuh di sekitarnya masih sangat bergantung pada tingginya jumlah wisatawan.
Destinasi seperti Phuket dan Chiang Mai dibangun untuk melayani pariwisata berskala besar sehingga pergeseran menuju wisatawan yang lebih sedikit tetapi memiliki pengeluaran lebih besar bukanlah hal yang mudah.
Thailand juga tidak lagi mendominasi pasar wisata berbiaya terjangkau seperti sebelumnya. Vietnam dan Indonesia kini semakin kompetitif, sementara penguatan nilai tukar baht dalam beberapa tahun terakhir mengikis salah satu keunggulan tradisional Thailand.
Selama puluhan tahun, Thailand membangun industri pariwisata massal terbesar di dunia, didukung oleh mata uang yang lebih murah, promosi melalui film dan serial televisi, serta ledakan wisatawan asal China sebelum pandemi Covid-19. Namun, sejak pandemi negara tersebut masih kesulitan mengembalikan momentum tersebut.
Meski demikian, Nithee menegaskan strategi baru ini bukan berarti Thailand menutup pintu bagi wisatawan dengan anggaran terbatas. “Bagi Thailand, kemewahan berarti pengalaman yang bermakna dan pengalaman yang eksklusif,” ujarnya. (*)









