Reaktivasi Bandara Husein picu dilema, pariwisata Bandung untung, Kertajati terancam

Bagikan

“Jika maskapai jet diizinkan kembali beroperasi di Bandung, daya tarik Bandara Kertajati akan merosot drastis bagi warga Bandung Raya. Bandara Kertajati berisiko kembali sepi penumpang, yang berimplikasi pada sulitnya mencapai tingkat pengembalian modal (return on investment) dan tingginya beban fiskal operasional,” ucap akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata tersebut.

Menurut Djoko, Tol Cisumdawu sebenarnya sudah memangkas waktu tempuh Bandung-Kertajati menjadi sekitar satu hingga satu setengah jam. Di sisi lain, lanjut dia, keberadaan Kereta Cepat Whoosh juga sudah sangat kuat mengamankan koridor Jakarta-Bandung.

“Pengaktifan kembali Husein berpotensi mengacak-acak pembagian pasar (market sharing) yang sudah mulai terbentuk di antara infrastruktur-infrastruktur baru ini,” lanjut Djoko

Ketiga, sisi positif bagi konsumen berupa efisiensi waktu dan biaya perjalanan. Efisiensi waktu ini juga berarti penghematan ongkos transportasi darat menuju bandara.

Keempat, keterbatasan teknis dan keselamatan. Secara teknis penerbangan, Djoko menyampaikan Bandara Husein Sastranegara memiliki keterbatasan intrinsik yang tidak bisa diabaikan.

Djoko menyampaikan bandara ini dikelilingi pegunungan dan berada di tengah permukiman padat penduduk. Panjang landasan pacu yang terbatas, yakni 2.600 meter, membuat pesawat berbadan lebar tidak dapat mendarat. Selain itu, ruang untuk perluasan fisik bandara juga sudah tidak tersedia.

“Kapasitas ruang tunggu dan apron (tempat parkir pesawat) Bandara Husein Sastranegara juga terbatas sehingga rentan mengalami kepadatan ekstrem jika frekuensi penerbangan ditingkatkan secara agresif,” ungkapnya.

Djoko mendorong pemerintah dan regulator transportasi merumuskan skema pembagian rute yang sangat ketat agar kebijakan ini tidak merugikan salah satu pihak. Menurut dia, Bandara Husein Sastranegara idealnya dibatasi hanya untuk penerbangan domestik jarak pendek hingga menengah, penerbangan point-to-point regional seperti rute gemuk Bandung-Surabaya atau Bandung-Denpasar, serta penerbangan luar negeri ke Singapura dan Malaysia dari beberapa negara bagian, serta pesawat bermesin baling-baling (propeller/ATR).

“Sementara itu, Bandara Kertajati tetap difokuskan sebagai hub untuk penerbangan internasional jarak jauh, penerbangan Umroh dan haji, serta logistik kargo berskala besar,” ucap dia.