Mediatrip.id – Temen Trip, Pemerintah resmi menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur sebesar 38% sebagai respons atas lonjakan harga avtur global.
Kebijakan ini secara langsung berdampak pada struktur biaya operasional maskapai, yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga tiket pesawat domestik di kisaran 9%–13%.
Kenaikan ini bukan sekadar isu transportasi, melainkan memiliki implikasi luas terhadap sektor pariwisata Indonesia.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada transportasi udara untuk menghubungkan berbagai destinasi wisata. Aksesibilitas menjadi faktor kunci dalam menarik pergerakan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Ketika harga tiket pesawat meningkat, potensi penurunan minat bepergian pun muncul, khususnya bagi wisatawan domestik yang sensitif terhadap harga.
Mereka cenderung menunda perjalanan, mengurangi frekuensi liburan, atau beralih ke destinasi yang lebih dekat dan terjangkau.
Dampaknya terasa signifikan pada destinasi wisata yang bergantung pada penerbangan, seperti Bali, Labuan Bajo, atau Raja Ampat.
Kenaikan biaya perjalanan dapat menurunkan jumlah kunjungan wisatawan, yang kemudian berimbas pada pendapatan pelaku usaha pariwisata, mulai dari hotel, restoran, hingga UMKM lokal.
Efek berantai ini berpotensi memperlambat pemulihan sektor pariwisata yang sebelumnya terpukul pandemi.
Di sisi lain, kondisi ini juga dapat mendorong perubahan perilaku wisatawan. Tren wisata berbasis darat atau wisata lokal (local tourism) bisa meningkat, terutama di wilayah yang mudah dijangkau tanpa pesawat.
Hal ini menjadi peluang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan destinasi alternatif dan memperkuat infrastruktur transportasi non-udara.
Bagi pemerintah, situasi ini menjadi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan dan pertumbuhan sektor pariwisata.
Diperlukan strategi adaptif, seperti pemberian insentif, promosi pariwisata yang lebih agresif, serta diversifikasi akses transportasi, agar dampak kenaikan biaya ini tidak terlalu menekan daya saing pariwisata Indonesia.
Dengan demikian, kenaikan fuel surcharge avtur tidak hanya memengaruhi harga tiket pesawat, tetapi juga menjadi faktor penting yang dapat menentukan dinamika dan arah perkembangan sektor pariwisata nasional. (*)














