Kata “sphinx” berasal dari bahasa Yunani kuno, baru digunakan sekitar 2.000 tahun setelah patung itu dibangun. Ada juga fakta menarik tentang kehilangan hidung Sphinx.
Banyak legenda populer mengklaim, bahwa hidungnya rusak akibat meriam tentara Napoleon, tetapi bukti sejarah menunjukkan, bahwa hidung tersebut sudah hilang jauh sebelum kedatangan Napoleon di Mesir.
Tidak hanya itu, Sphinx disebut-sebut pernah nyaris terkubur sepenuhnya oleh pasir gurun selama berabad-abad.
Baru pada abad ke-19 bagian depannya mulai digali oleh peneliti modern sehingga bentuknya seperti sekarang kembali terlihat.
Sementara itu, ada berbagai teori kontroversial dan pseudo-arkeologi tentang usia dan fungsi Sphinx, termasuk spekulasi tanpa bukti kuat, bahwa strukturnya jauh lebih kuno daripada yang diakui oleh ilmu arkeologi mainstream penelitian akademis tetap menempatkannya sebagai salah satu karya arsitektur monumental terbesar dari Mesir Kuno. (*)















